Pages

Sabtu, 15 November 2014

Teman-Teman Kecilku part 2

Pada Akhirnya..
Imah tiba ditempat yang ingin sekali ia kunjungi pada malam itu, sebuah taman yang cukup sunyi, di tengah kota yang padat ini.
***
Memang benar kalo taman selalu identik dengan orang pacaran, atau untuk bermain bersama keluarga atau teman tapi kali ini ia tidak sedang ingin bermain atau berbicara dengan seorangpun.
Tak lupa Ia menyempatkan untuk membeli sebuah minuman isotonic, minuman yang sangat cocok untuk menemani dirinya yang terlihat sangat lemas dan pucat.

Imah mulai berjalan menyusuri taman, ia mengenggam handphone genggam favoritenya dan tak lupa ia selipkan headset di lubang telinganya, music-music favoritenya mulai mengalun dengan lembut mengiringi langkahnya menyusuri taman itu.
Ini pertama kali baginya ia mengunjungi sebuah taman dimalam hari ‘seorang diri’. Di hatinya memang ada sebuah ketakutan, mungkin hanya dia satu-satunya gadis yang berkeliaran ‘tanpa satu-pun teman’.
***
Kini Imah menemukan tempat yang dirasanya tepat untuknya berlabuh yaitu sebuah jembatan ditengah taman.
Imah mulai menginjak papan pertamam, sesaat hatinya bergemuruh..
ya benar saja, Imah sebenarnya sangat takut melewati jembatan. Tapi entah sekali lagi, ketakutan yang sebelumnya ia alami seakan sirna oleh tekatnya.

Imah perlahan duduk dan meneguk kembali minumannya, pikirannya mulai melayang-layang mencari tahu apa yang terjadi padanya. Dia bukanlah wanita yang tangguh, bukan pula wanita liar yang hobi pulang larut, Ia hanyalah gadis biasa saja yang penuh ketakutan, kebiasannya hanya dirumah melakukan apa saja yang membuatnya senang namun kali ini ia merasa lain, seperti  ada ‘sesuatu’ yang sangat mengusiknya. Mungkin benar jika terkadang seseorang butuh berkomunikasi dengan dirinya sendiri.
***
“Sepertinya aku harus pindah, disini mulai banyak pasangan muda-mudi berdatangan di jembatan ini untuk berbincang bersama” ucap imah dengan dirinya sendiri. Ia mulai berdiri dan bergerak pergi, tempat selanjutnya masih sama. dipinggir sungai, hanya saja kali ini lebih aman.

Imah mulai memejamkan mata, volume music yang didengarkan sengaja ditambah agar ia tak mendengar apa yang menganggu disekelilingnya. Ketika ia mulai membuka mata, pandangannya menjadi kabur. “apa yang terjadi denganku ? mengapa aku menangis?” ucap imah didalam hati. Ia sekuat tenaga menahan air mata tersebut agar tidak jatuh ‘lagi’. Kemudian pendengarannya mulai terusik sepertinya banyak segerombolan anak datang menghampirinya. Ketika ia menoleh ia dikagetkan oleh anak-anak kecil yang entah berasal dari mana, jujur awalnya imah sangat terganggu. Lalu salah satu dari mereka semakin mendekat sambil berkata, “kakak kok sendirian sih disini? Kakak gak punya temen yaa?”.
Imah hanya diam menatap sendu gadis kecil itu, seperti ada yang menancapkan sebuah pisau di hatinya. “Yaa ternyata kenyataan ini begitu pahit, walau sedari tadi aku mencoba menepis apa yang sebenarnya terjadi, namun gadis kecil dan segerombolan anak itu telah menyadarkan pada sebuah kenyataan yang harus ku terima, bukannya menjawab pertanyaan itu aku justru menjawabnya dengan air mata”.
“Mengapa harus sakit hati dengar perkataannya? Bukankah memang benar aku sedang sendirian disini? aku ingin membenarkan ucapannya namun lidah ini seakan kaku dan tak dapat berucap apapun, mereka semakin heran dengan sikapku”.

Seorang bocah laki-laki yang mengemaskan berkata “hayo jangan bikin kakaknya nangis, mungkin kakak lagi galau tuh makanya sendirian, tuhkan kamu bikin dia nangis”
Kemudian  gadis kecil yang lain membranikan diri untuk menghampiri imah yang hanya tersenyum getir mendengar perkataan bocah itu, Gadis kecil ini mulai duduk disamping imah dan berkata “kakak, aku boleh ya duduk disampingmu? Aku mau  loh jadi teman kakak” senyuman tulusnya sungguh menyentuh hatiku, tak ku sangka malam ini aku bertemu dengan mereka. Kali ini kubalas dengan senyuman hangatku,
“boleh dong, kalian kok ada disini malam-malam ? rumah kalian ada dimana?”
“rumah kita dideket sini kak, kebetulan kereta kelinci yang kami naiki berhenti di taman ini, udah dulu ya kak. maav kita harus kembali, Kita duluan ya kak, kakak jangan sedih lagi” senyuman itu mengembang lagi dari bibir mungilnya.
“oh iya, boleh silahkan, hati-hati ya kalian” imah membalas dengan senyuman pula, jujur ia masih ingin lebih lama ditemani mereka. Mata imah mengikuti kepergian mereka,
sesaat imah baru menyadari bahwa ketulusan teman-teman kecil barunya mampu menyadarkannya bahwa ia tidaklah seorang diri didunia ini. Bahkan beberapa teman dapat hadir disuatu tempat yang tak terduga, kini ia lega ternyata ‘sesuatu’ itu adalah perasaan kesepian yang ia rasakan beberapa hari terakhir.
***
Kini ia bangkit dari  bangku itu sambil tersenyum penuh arti, “ aku harus bangkit, aku tidak sendiri ! terima kasih para teman-teman kecilku, bertemu kalian adalah sebuah anugerah dari Allah, ternyata ini cara Allah menghibur kegundahanku, yaitu melalui teman-teman kecil yang tulus”.

Imah mulai berjalan meninggalkan taman, malam ini ia mendapat pengalaman yang berharga.
Sampai bertemu lagi teman-teman kecil,
Ia yakin bahwa Allah selalu memberikan apa yang umatnya butuhkan, bukan apa yang diinginkan oleh umatnya.

-SEKIAN- 

Rabu, 05 November 2014

Teman-Teman kecilku part 1

Malam dimana Imah benar-benar ingin lari kesuatu tempat, ia ingin meluapkan apa yang ada dalam fikirannya. Pada malam itu seusai kuis pada salah satu mata kuliah yang Imah tempuh ia segera menghampiri seorang yang bernama Ilym. Dia teman yang slalu setia bersama-sama, hingga untuk pulang mereka selalu bersama-sama.

"Lym, nanti pulang bareng kah? Tapi aku pengen mampir kesuatu tempat nih" ungkap Imah.
"Yauda terserah kamu, kalo mau duluan ya gapapa" ilym menjawab dengan nada yang sulit ia artikan.

Akhir-akhir ini sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi namun imah tak kunjung menemukan apa yang sebenarnya terjadi dengan teman dekatnya itu, setiap kali di tanya mata ilym tidak tertuju padanya ekspresinya pun tak biasa. entah imah yang terlalu sensitif atau bagaimana , tapi imah mencoba bersikap seperti biasa walaupun sebenarnya ia sedang mempelajari sifat temannya yang satu ini. Sudah beberapa kali ini dia aneh, apa dia pernah berbuat salah dengan ilym? Semua tanya imah berterbangan di kepalanya.

Beberapa kali ia menanyakan ada apa dengan temannya itu namun tak ada jawaban yang benar-benar logis. Imah dulu pernah membiarkan dan menjaga jarak dengan temannya yang satu ini tapi yang diterima justru pertanyaan balik dari ilym "kamu kenapa mah?" imah sangat heran, "bukankah dia yg sepertinya tidak menginginkan ku ada didekatnya?  salahkah aku menghindar karna sikapnya yang seperti itu?" dan banyak pertanyaan dibatin imah. Jadi karna pengalaman itu kini imah tetap disampingnya namun hanya diam karena ia tetap tak mengerti harus bersikap seperti apa menanggapi keanehannya temannya ini.

Mereka menuju parkiran kampus, setelah keluar imah dan ilym bersama melajukan masing-masing kendaraannya.
"Kamu jadi bareng ?" ilym membuka pertanyaan 
"iya lym tapi ntar sampe delta kita mencar ya, aku mau mampir kesuatu tempat" jawab imah.
"Aku juga nih mau ketempat temenku"
"Okedeh"
Kemudian kedua gadis itu melaju dengan kendaraan mereka masing-masing, tapi beberapa meter setelah percakapan tadi ketika  dilampu merah pertama  ilym berkata
"Kita mencar disini aja yaa aku mau lewat sana aja "
"Oh iya lym hatihati yaa "
"Iya kamu juga"

Lalu mereka melesat ke dua arah yang berbeda. Setelah mereka berpisah, Imah mengencangkan laju kendaraannya dan berteriak, entah apa yang terjadi dengannya seketika ia ingin meluapkan sesuatu . Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya, dengan kecepatan yang cukup tinggi ia ingin segera tiba ditaman itu. Taman yang sangat ingin ia kunjungi dimalam itu .. Malam dimusim kemarau namun terasa dingin dan mencekam baginya, ini waktunya dia benar-benar ingin sendiri..
-tobecontinue-