Pada Akhirnya..
Imah tiba ditempat yang ingin sekali ia kunjungi pada malam itu,
sebuah taman yang cukup sunyi, di tengah kota yang padat ini.
***
Memang benar kalo taman selalu identik dengan orang pacaran, atau
untuk bermain bersama keluarga atau teman tapi kali ini ia tidak sedang ingin
bermain atau berbicara dengan seorangpun.
Tak lupa Ia menyempatkan untuk membeli sebuah minuman isotonic,
minuman yang sangat cocok untuk menemani dirinya yang terlihat sangat lemas dan
pucat.
Imah mulai berjalan menyusuri taman, ia mengenggam handphone genggam
favoritenya dan tak lupa ia selipkan headset di lubang telinganya, music-music
favoritenya mulai mengalun dengan lembut mengiringi langkahnya menyusuri taman
itu.
Ini pertama kali baginya ia mengunjungi sebuah taman dimalam hari ‘seorang
diri’. Di hatinya memang ada sebuah ketakutan, mungkin hanya dia satu-satunya
gadis yang berkeliaran ‘tanpa satu-pun teman’.
***
Kini Imah menemukan tempat yang dirasanya tepat untuknya berlabuh
yaitu sebuah jembatan ditengah taman.
Imah mulai menginjak papan pertamam, sesaat hatinya bergemuruh..
ya benar saja, Imah sebenarnya sangat takut melewati jembatan. Tapi entah
sekali lagi, ketakutan yang sebelumnya ia alami seakan sirna oleh tekatnya.
Imah perlahan duduk dan meneguk kembali minumannya, pikirannya mulai
melayang-layang mencari tahu apa yang terjadi padanya. Dia bukanlah wanita yang
tangguh, bukan pula wanita liar yang hobi pulang larut, Ia hanyalah gadis biasa
saja yang penuh ketakutan, kebiasannya hanya dirumah melakukan apa saja yang
membuatnya senang namun kali ini ia merasa lain, seperti ada ‘sesuatu’ yang sangat mengusiknya. Mungkin
benar jika terkadang seseorang butuh berkomunikasi dengan dirinya sendiri.
***
“Sepertinya aku harus
pindah, disini mulai banyak pasangan muda-mudi berdatangan di jembatan ini
untuk berbincang bersama” ucap imah dengan dirinya sendiri. Ia mulai berdiri
dan bergerak pergi, tempat selanjutnya masih sama. dipinggir sungai, hanya saja
kali ini lebih aman.
Imah mulai
memejamkan mata, volume music yang didengarkan sengaja ditambah agar ia tak
mendengar apa yang menganggu disekelilingnya. Ketika ia mulai membuka mata,
pandangannya menjadi kabur. “apa yang terjadi denganku ? mengapa aku menangis?”
ucap imah didalam hati. Ia sekuat tenaga menahan air mata tersebut agar tidak
jatuh ‘lagi’. Kemudian pendengarannya mulai terusik sepertinya banyak
segerombolan anak datang menghampirinya. Ketika ia menoleh ia dikagetkan oleh
anak-anak kecil yang entah berasal dari mana, jujur awalnya imah sangat
terganggu. Lalu salah satu dari mereka semakin mendekat sambil berkata, “kakak
kok sendirian sih disini? Kakak gak punya temen yaa?”.
Imah hanya diam menatap sendu gadis kecil itu, seperti ada yang menancapkan sebuah pisau di hatinya. “Yaa ternyata kenyataan ini begitu pahit, walau sedari tadi aku mencoba menepis apa yang sebenarnya terjadi, namun gadis kecil dan segerombolan anak itu telah menyadarkan pada sebuah kenyataan yang harus ku terima, bukannya menjawab pertanyaan itu aku justru menjawabnya dengan air mata”.
Imah hanya diam menatap sendu gadis kecil itu, seperti ada yang menancapkan sebuah pisau di hatinya. “Yaa ternyata kenyataan ini begitu pahit, walau sedari tadi aku mencoba menepis apa yang sebenarnya terjadi, namun gadis kecil dan segerombolan anak itu telah menyadarkan pada sebuah kenyataan yang harus ku terima, bukannya menjawab pertanyaan itu aku justru menjawabnya dengan air mata”.
“Mengapa harus
sakit hati dengar perkataannya? Bukankah memang benar aku sedang sendirian
disini? aku ingin membenarkan ucapannya namun lidah ini seakan kaku dan tak
dapat berucap apapun, mereka semakin heran dengan sikapku”.
Seorang bocah
laki-laki yang mengemaskan berkata “hayo jangan bikin kakaknya nangis, mungkin
kakak lagi galau tuh makanya sendirian, tuhkan kamu bikin dia nangis”
Kemudian gadis kecil yang lain membranikan diri untuk
menghampiri imah yang hanya tersenyum getir mendengar perkataan bocah itu,
Gadis kecil ini mulai duduk disamping imah dan berkata “kakak, aku boleh ya
duduk disampingmu? Aku mau loh jadi
teman kakak” senyuman tulusnya sungguh menyentuh hatiku, tak ku sangka malam
ini aku bertemu dengan mereka. Kali ini kubalas dengan senyuman hangatku,
“boleh dong,
kalian kok ada disini malam-malam ? rumah kalian ada dimana?”
“rumah kita
dideket sini kak, kebetulan kereta kelinci yang kami naiki berhenti di taman
ini, udah dulu ya kak. maav kita harus kembali, Kita duluan ya kak, kakak
jangan sedih lagi” senyuman itu mengembang lagi dari bibir mungilnya.
“oh iya, boleh
silahkan, hati-hati ya kalian” imah membalas dengan senyuman pula, jujur ia
masih ingin lebih lama ditemani mereka. Mata imah mengikuti kepergian mereka,
sesaat imah baru
menyadari bahwa ketulusan teman-teman kecil barunya mampu menyadarkannya bahwa
ia tidaklah seorang diri didunia ini. Bahkan beberapa teman dapat hadir disuatu
tempat yang tak terduga, kini ia lega ternyata ‘sesuatu’ itu adalah perasaan
kesepian yang ia rasakan beberapa hari terakhir.
***
Kini ia bangkit
dari bangku itu sambil tersenyum penuh
arti, “ aku harus bangkit, aku tidak sendiri ! terima kasih para teman-teman
kecilku, bertemu kalian adalah sebuah anugerah dari Allah, ternyata ini cara
Allah menghibur kegundahanku, yaitu melalui teman-teman kecil yang tulus”.
Imah mulai
berjalan meninggalkan taman, malam ini ia mendapat pengalaman yang berharga.
Sampai bertemu
lagi teman-teman kecil,
Ia yakin bahwa
Allah selalu memberikan apa yang umatnya butuhkan, bukan apa yang diinginkan
oleh umatnya.
-SEKIAN-